

5S adalah budaya positif serta metode yang diaplikasikan untuk menciptakan suasana kerja dengan tujuan produktivitas rapi, baik dan bersih. Penerapan budaya 5S adalah suatu metode dengan fungsi sebagai salah satu tindakan kemudahan sekaligus pencegahan untuk mendeteksi kemungkinan masalah yang akan muncul dalam suatu lingkup perusahaan.
Budaya 5S adalah sebuah istilah baru bagi Anda, dimana mungkin berada dalam lingkup kerja yang belum menerapkan struktur ini. Metode 5S juga dianggap sebagai salah satu tool paling efektif yang dapat diterapkan untuk membuat lingkungan kerja lebih terkontrol. Apa saja budaya 5S itu? Simak ulasannya berikut ini.
Bila bekerja di suatu perusahaan atau industri manufaktur (lean manufacturing) serta rumah sakit (lean healthcare), pasti Anda sudah tidak asing lagi saat mendengar istilah 5S. Metode 5S dinilai dapat memberikan sumbangsih besar atas kesuksesan suatu perusahaan. Bahkan, hampir seluruh perusahaan bergengsi lokal maupun asing pasti sudah menerapkan budaya 5S.
5S adalah suatu sistem manajemen tata rumah tangga, good housekeeping dan tata graha yang diterapkan guna pengelolaan lingkungan kerja lebih terstruktur. Lingkungan kerja yang dimaksud tidak hanya sebatas di area perkantoran maupun gudang. 5S adalah budaya baik yang dapat diterapkan lebih luas lagi, hingga ke area bengkel, laboratorium produksi dan lain sebagainya.
Selain senyum sapa salam, budaya 5S adalah persoalan mengatur ruang kerja yang lebih efisien. Dalam bahasa Jepang, istilah 5S adalah kepanjangan dari Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke yang kemudian diabveriasikan menjadi Sort, Set in Order, Shine, Standardize dan Sustain. Bagi beberapa orang 5S adalah 5r yang berarti Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin.
Struktur 5S sering dianggap hanya sebatas filosofi kebersihan yang diterapkan oleh orang Jepang. Padahal nyatanya, 5S adalah bagian dari pengelolaan lingkungan kerja yang lebih efektif dan efisien. 5S adalah pengaplikasian cara untuk mengelola, mengatur perbaikan, pemangkasan proses operasional yang tidak diperlukan di tempat kerja.
Implementasi budaya 5S adalah mengembangkan keselamatan kerja (safety), menumbuhkan tanggung jawab para karyawan serta rasa memiliki. 5S adalah sebuah pendekatan sederhana yang pada dasarnya dibentuk guna meningkatkan visual control, visibilitas proses, potensi problem solving dan biasanya diterapkan bersamaan dengan praktek-praktek peningkatan keselamatan di area kerja.
Budaya 5S adalah pengajaran tentang kebiasaan disiplin secara terus menerus dan tidak kenal menyerah sehingga akan selalu mencoba. Kebiasaan disiplin akan menciptakan etos kerja baik bagi para dan sesama karyawan. Istilah 5S lahir dari akronim lima kata dalam Bahasa Jepang, yakni Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke.
Konsep Seiri berhubungan dengan proses memilah barang atau produk yang sangat berfungsi bagi kelancaran aktivitas suatu perusahaan atau industri. Untuk menerapkannya, Anda perlu memastikan untuk menyortir setiap barang berdasarkan jenis dan keperluannya. Memisahkan barang berbeda ke dalam suatu grup bertujuan agar tidak ada produk tercampur yang sampai ke tangan pelanggan. Sebab terkadang, barang yang tidak disortir dengan baik akan menyebabkan percampuran produk sampai ke tangan konsumen.
Penyortiran produk juga berkaitan dengan pemisahan barang yang dinyatakan “NG” dan “OK”. Proses Seiri juga mencakup hingga ke produk yang belum diperiksa. Seiri mengharuskan seluruh produk wajib memiliki kejelasan tanda dan harus terpisah sesuai dengan jenisnya. Metode Seiri memastikan agar alat yang masih bisa digunakan di lingkungan kerja tidak tercampur dengan perlengkapan yang telah rusak dan tak bisa dimanfaatkan kembali.
Penerapan konsep Seiri akan sangat terlihat saat barang akan diproduksi dari gudang. Pemberian kejelasan tanda pada produk akan memudahkan karyawan bagian gudang dan produksi. Seiri juga dapat mencegah terjualnya barang tak bermutu sampai ke tangan konsumen. Hal ini bisa terjadi sebab Seiri memisahkan antara produk bagus dengan barang yang tidak layak dijual.
Barang-barang yang telah disortir sesuai tujuan dan jenisnya, selanjutnya haruslah ditata dengan rapi. Penataan produk yang efektif dapat dilakukan dengan memberikan identitas jelas sehingga tidak tercampur satu sama lain. Tata letak produk juga bisa disimpan dalam warna box berbeda agar lebih rapi dan mudah dibedakan sesuai keperluan nantinya.
Pola Seiton dapat mulai diterapkan sejak bahan baku barang tiba dari tangan produsen ataupun saat pengemasan produk hingga tiba dan siap dijual di pasaran sampai ke tangan konsumen. Konsep Seiton akan sangat membantu tim pemasaran agar produk yang sampai di pasaran tidak salah sebab barang siap jual telah ditata sebelumnya.
Tak hanya diaplikasikan pada barang-barang, konsep Seiton juga dapat dimanfaatkan untuk merapikan file-file yang ada di administrasi perusahaan. File yang tertata dan terorganisir dengan baik akan sangat membantu Anda saat akan mencari data-data tertentu. File dapat ditata sesuai bidangnya dan diletakkan dalam folder berbeda sehingga rapi.
Aktivitas bebersih merupakan kegiatan keseharian yang harusnya sudah jadi bagian dari hidup seseorang. Konsep Seiso memastikan agar lingkungan kerja bisa tetap bersih baik dari saat awal mulai hingga setelah mengerjakan suatu pekerjaan. Seiso akan mencegah terjadinya kesalahan, pelanggaran hingga kelalaian dalam bekerja.
Pola Seiso dapat dilakukan dengan menata, membersihkan peralatan dari debu atau kotoran dan mengembalikannya ke tempat semula setelah selesai digunakan. Alat-alat yang rusak dan bermasalah akan mudah terdeteksi sehingga dapat digantikan dengan perlengkapan baru. Kebersihan akan membantu proses bekerja dan operasional industri dan perusahaan.
Konsep Seiketsu lebih mengarah pada standarisasi, dimana seluruh karyawan dituntut untuk menerapkan seluruh pola 5S sehingga tidak menguras banyak waktu dan energi. Seiketsu juga dapat mendorong agar jalannya 5S di suatu perusahaan dapat dilaksanakan secara konsisten dan dilakukan oleh semua orang tanpa terkecuali.
Pembiasaan 5S dalam lingkup operasional perusahaan maupun industri dapat menciptakan hasil yang maksimal bila dilakukan secara konstan dan terus menerus. Meski terlihat sepele dan biasa saja, konsep Seiko akan sangat membantu serta mempengaruhi seluruh aktivitas perusahaan termasuk kegiatan operasionalnya.
Fase terakhir dari penerapan konsep 5S adalah Shitsuke. Aplikasi pendisiplinan Shitsuke merupakan proses jangka panjang yang harus dilakukan secara berkelanjutan dan terus menerus. Pola Shitsuke merupakan penyempurna keempat konsep sebelumnya. Pengaplikasian keempat konsep di atas dilakukan untuk mempertahankan kedudukan suatu perusahaan.
Penerapan terbaik budaya 5S adalah dengan berpegang teguh terhadap aturan-aturan serta standar yang telah dibuat. Pengembangan metode 5S hingga dapat menjadi suatu kebiasaan baru di perusahaan hanya dapat dilakukan apabila seluruh aspeknya punya sifat rajin sehingga bisa melahirkan inovasi-inovasi baru yang berkelanjutan.
Baca Juga: Resepsionis Adalah – Pengertian, Tugas & Keahliannya
Walau terlihat simpel dan sepele, nyatanya budaya 5S akan memberikan efek luar biasa dalam meningkatkan efisiensi produktivitas perusahaan bila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Penerapan budaya 5S juga terbukti mampu meningkatkan potensi seluruh karyawan. Sumber daya manusia yang potensial sangat dibutuhkan untuk kemajuan perkembangan perusahaan.